Cerita Perjalanan Jamie Vardy

Keajaiban memang ada, jika kamu percaya” Itu kata salah seorang diva Amerika Serikat. Tapi sebagian besar keajaiban hanya terjadi di buku dongeng anak-anak dan jarang menjadi kenyataan. Dari yang jarang itu, salah satunya terjadi dalam kisah striker Leicester City, Jamie Vardy.

Vardy bukan produk akademi sepak bola klub-klub besar seperti Lionel Messi atau Cesc Fabregas yang lahir dari akademi legendaris Barcelona La Masia. Ia juga bukan pemain sepak bola jalanan yang diendus klub-klub besar Eropa saat bermain di kampung halamannya seperti Ronaldinho atau Ronaldo Luis Nazario.

Vardy memang tinggal di negara besar dengan sistem sepak bola berjenjang yang kompleks dan terorganisasi dengan baik. Tapi dia tak punya kesempatan untuk bermain di level profesional. Bahkan hingga berusia 25 tahun, pemain kelahiran 11 Januari 1987 itu hanya bisa berkiprah di klub non-liga, Fleetwood Town. Klub non-liga adalah klub yang tidak tergabung dalam Football League. Football League merupakan sistem Liga Inggris yang banyak kita kenal.

Sistem ini memiliki delapan kasta utama. Setiap kasta memiliki jumlah klub yang berbeda dengan sistem promosi dan degradasi. Kasta tertinggi adalah Premier League yang kita tonton hampir setiap pekan itu. Klub non-liga adalah klub yang tidak tergabung dalam sistem itu. Karena itu pengelolaan klub, kualitas permainan, dan budaya sepak bolanya jauh dari mereka yang tergabung dalam Football League.

Dalam sebuah catatannya saat menonton klub non-liga, kolumnis ESPN Michael Cox menyebut bahwa klub-klub non-liga adalah tim sepak bola dengan partisipasi langsung dari masyarakat. Tidak ada tangan-tangan kapitalisme seperti di Premier League (harga tiket yang melambung, transfer pemain dengan harga fantastis, dan penjualan merchandise yang gila-gilaan).

“Untuk menarik penonton, ada klub yang menawarkan telur setengah lusin bagi 50 penonton pertama,” kata Cox.

Banyak “pemandangan” yang hanya bisa ditemui di pertandingan non-liga. Misalnya, bola tendangan bek yang melambung tinggi hingga tersangkut di atap stadion. Maklum, stadion yang dipakai sangat kecil. Atau, kata Cox, ada kalanya pelatih memindah bek kanan ke posisi bek kiri. Pasalnya penonton di tribun meneriakinya setiap kali dia menggiring bola. Penonton pun sudah biasa berbaur dengan para pemain di pinggir lapangan.

Suasana yang “amatir” dan “pinggiran” tersebut ternyata menjadi bagian dari hidup Vardy saat masih memperkuat Halifax Town (2010-2011) dan Fleetwood Town (2011-2012). Kesempatan baginya untuk mengorbit ke level profesional baru datang pada 2012 saat klub Football League, Leicester City, merekrutnya dengan rekor transfer terbesar dalam sejarah klub non-liga: 1 juta poundsterling.

Sekadar gambaran, angka itu tak ada apa-apanya dibanding Angel Di Maria yang direkrut Manchester United dari Real Madrid dengan harga 44 juta poundsterling—meski dia hanya bertahan setahun. Langkah Leicester (saat itu mereka masih berada di kasta di bawah Premier League, Championship) tersebut termasuk perjudian besar. Apalagi Vardy sudah bukan lagi pemain belia yang bisa digembleng permainannya.

Usia 25 tahun adalah masa seorang pesepak bola berada dalam bentuk finalnya atau masa keemasan. Ternyata, Vardy termasuk bertipe late boomer alias “lambat mekar”. Dan dia baru membuktikannya pada musim keempatnya di Leicester. Di Premier League dia mencetak 14 gol hingga matchday ke-14. Musim lalu cuma 5 gol yang dia ciptakan.

Tidak hanya jumlah gol yang luar biasa, tapi juga konsistensinya. Vardy memecahkan rekor salah satu striker terbaik dalam sejarah Manchester United Ruud van Nistelrooy. Rekor Ruudtje—panggilan akrabnya—adalah mencetak gol dalam sepuluh pertandingan Premier League berturut-turut. Vardy mengunggulinya dengan mencetak gol dalam sebelas pertandingan secara beruntun.

Yang menarik, gol di laga ke-11 Vardy dicetak ke gawang United, mantan klub Nistelrooy, saat Leicester menghadapi Setan Merah—julukan United. Dengan konsistensi yang luar biasa tersebut, pemain produk sepak bola “amatiran” itu kini menjadi raja pencetak gol Premier League. Raihan 14 golnya adalah terbanyak di antara penyerang lainnya. Saingan terdekatnya adalah Romelu Lukaku (Everton) dengan sepuluh gol.