Kisah Perjuangan Angel Di Maria Semasi Muda

pemain yang merayakan ulang tahun ke-29 pada hari ini (14 Februari) sudah digadang-gadang akan menjadi pemain bintang. Pemain asal Argentina itu lahir di kota Rosario, namun tumbuh di Perdriel. Di Maria sudah menggemari sepakbola sejak kecil. Ayahnya yang bernama Miguel merupakan pemain sepakbola profesional. Namun karirnya hancur setelah mengalami cedera lutut parah sebelum menjalani debut bersama River Plate. Kehidupan Miguel pun berubah setelah memutuskan untuk bekerja di sebuah area pertambangan.

Kehidupan Di Maria saat kecil tidak dapat dikatakan mudah. Keluarganya yang kurang mampu membuat ia kerap ikut membantu orangtuanya mencari uang. Ia harus berbagi kamar dengan dua saudara perempuannya. Orang tua Di Maria bahkan harus bersusah payah untuk membelikan anaknya sepatu sepakbola.

Di Maria pertama kali terjun di dunia sepakbola pada umur empat tahun, ketika ibunya memutuskan untuk mendaftarkan Di Maria ke klub sepakbola junior, El Torito, karena Di Maria termasuk anak yang hiperaktif saat itu. Tapi keputusan itu sama sekali tidak salah. Di Maria memukau banyak orang dengan mencetak 64 gol dalam sebuah kompetisi lokal. Mengetahui bakat yang ada pada anaknya, Miguel sangat serius mengasah talenta sang anak. Ia merasa sepakbola dan Di Maria akan memberikan kehidupan yang lebih baik untuk keluarganya.

Tulio Zof, pencari bakat klub Rosario Central terpincut dengan aksi luar biasa Di Maria dalam mengolah si kulit bundar. Di Maria akhirnya bergabung dengan Rosario Central pada usia enam tahun dengan kontrak yang unik. Pemain bernama lengkap Angel Fabian Di Maria Hernandez ini mencicipi debut profesionalnya pada Desember 2005, ketika Rosario berhadapan dengan Indepediente di pertandingan terakhir liga.

Musim 2006/2007, Di Maria mulai bermain regular untuk Rosario. Total ia mencatatkan 25 penampilan musim itu. Performa apiknya di atas lapangan membuat ia dipanggil timnas Argentina U-20 untuk berlaga di Piala Dunia U-20 2007. Pada bursa transfer musim panas 2007, Di Maria mulai diminati beberapa klub seperti Boca Junior dan bahkan Arsenal.

Namun akhirnya Di Maria memutuskan untuk pindah ke klub Portugal, Benfica. Di Maria harus menghadapi tekanan yang cukup berat ketika ia dijadikan sebagai pengganti Simao, kapten Benfica yang hijrah ke Atletico Madrid saat itu. Tapi Di Maria sukses memperlihatkan penampilan impresif. Akselerasi cepat dan dribel lihainya kerap menyusahkan pemain bertahan lawan.

Mengetahui pemain mudanya memiliki bakat yang luar biasa, Benfica memagari Di Maria dalam bentuk perpanjangan kontrak hingga 2015 dan klausul pembelian sebesar 44 juta euro pada tahun 2009. Nama Di Maria mulai benar-benar naik saat itu. Ditambah dengan hattrick pertama dalam karir profesionalnya ketika berhadapan dengan Leixoes serta Diego Maradona yang melabeli dirinya sebagai bintang masa depan Argentina, membuat ia semakin dikenal dan tentu saja banyak klub mulai merayu Benfica untuk melepas pemain andalannya itu.

Usai mengantarkan Benfica menjuarai Liga Portugal musim 2009/2010, Di Maria benar-benar diminati oleh banyak raksasa Eropa. Jose Mourinho yang saat itu masih menangani Real Madrid tertarik untuk mendapatkan jasa Di Maria. Akhirnya Benfica pun melepas Di Maria saat itu setelah tiga musim membela Si Elang dan mencatatkan 124 pertandingan serta 15 gol.

Bersama Real Madrid, Di Maria langsung menjadi andalan Mourinho. Ia memiliki kelebihan dalam kelincahan, akselerasi, kontrol bola, dan dribel. Kemampuan yang sangat cocok bagi pemain yang berposisi sebagai sayap. Ia juga langsung nyetel bersama rekannya di Real Madrid, total sebelas asis ia catat di La Liga musim 2010/2011. Di Maria tak jarang memanjakan Karim Benzema atau Cristiano Ronaldo dengan umpan silangnya yang akurat.

Masa depan Di Maria mulai dipertanyakan ketika Madrid mendatangkan Gareth Bale dan Isco pada musim panas 2013. Tapi Di Maria memutuskan untuk bertahan di Madrid meski sebenarnya lebih karena alasan keluarga. Sesaknya pemain bintang dalam skuat Madrid membuat Di Maria tidak ragu untuk menerima tawaran dari Manchester United yang saat itu sedang membangun skuat di bawah Louis van Gaal.

Bersama United, Di Maria gagal mengulang performa impresifnya seperti kala membela Madrid. Banderol mahal yang dikeluarkan United dianggap sangat tidak sebanding dengan kontribusi Di Maria di atas lapangan. Di Maria dinilai tidak nyetel dengan gaya permainan Van Gaal yang sangat mengandalkan penguasaan bola.

Taktik yang diterapkan pelatih asal Belanda itu membuat Di Maria tidak bisa banyak berlari dengan atau tanpa bola. Ia dituntut untuk melakukan umpan pendek ketimbang berlari dengan bola melewati lawan di sisi sayap. Padahal, itulah sebenarnya nilai plus Di Maria bersama Madrid, ia mampu berlari kencang untuk membangun serangan balik. Di Maria berkontribusi besar bagi serangan balik menyeramkan yang dimiliki oleh Madrid saat itu.

Akhir musim 2014/2015, Di Maria banyak dianggap sebagai transfer terburuk pada Liga Primer musim itu. Ia juga gagal membawa United bersaing memperebutkan gelar liga dan hanya finis di posisi empat. Menyadari Di Maria tidak cocok dengan skemanya, Van Gaal akhirnya melepas Di Maria ke PSG pada bursa transfer musim panas 2015.

Bersama PSG, ia kembali menemukan performa terbaiknya. Di Maria suskes mencetak 13 gol dan 20 asis pada musim pertamanya. Musim ini, Di Maria kerap terlihat kesulitan bersama PSG yang juga ‘akhirnya’ merasakan kesulitan dalam meraih gelar liga. Tapi lupakan segala kegagalannya itu, biarkan ia menikmati hari yang spesial baginya. Selamat ulang tahun dan semoga sukses, Di Maria!