Kisah Seorang Bocah Dari Vlogger Jadi Miliuner

Kisah Seorang Bocah Dari Vlogger Jadi Miliuner

Peristiwa ini terjadi tahun lalu pada Hari Anak Nasional, ketika itu Pak Presiden, Joko Widodo menanyakan kepada salah satu anak mengenai apa cita-citanya, namun jawaban si anak membuat Jokowi tertawa geli, Ia menjawab ingin menjadi Youtuber.

Video tanya jawab antara Presiden Jokowi dan bocah itupun kemudian viral, ada yang menilai jawaban si anak hanyalah jawaban polos nan konyol, tetapi ada juga yang berpendapat bahwa jawabannya bukan hal aneh.

Rafi, nama si anak tersebut, masih duduk di kelas VI SD saat itu. Tapi ia bisa menjawab dengan lantang alasannya ingin menjadi Yotuber. “Jadi Youtuber banyak subscribernya, bisa menghasilkan uang,” katanya saat itu.

Rafi paham bahwa Youtube bisa mendatangkan uang. Ia sudah tahu bahwa para pesohor di dunia maya membuat tayangan tak sekedar untuk memberi hiburan, tetapi juga untuk cari penghasilan.

Pembuat konten Youtube ini biasa disebut Youtuber atau Vlogger , kependekan dari video blogger. Salah satu vlogger yang cukup sukses dan dikenal di Indonesia adalah Raditya Dika dengan jumlah subscriber mencapai 3,3 juta.

Berdasarkan situs Social Blade, penulis buku “Kambing Jantan” ini diperkirakan berpenghasilan US$ 46 ribu hingga US$ 739 ribu per tahun atau sekitar Rp 623 juta hingga Rp 10 miliar.

Angka yang sangat fantastis! Wajar jadinya jika Rafi bercita-cita menjadi seperti Raditya Dika.

Tahun lalu, Google merilis penikmat Youtube aktif di Indonesia mencapai 50 juta orang, bahkan sempat menyentuh sebagai pengakses Youtube terbesar se Asia Pasifik. Jumlah ini terus meningkat setiap tahun, dan pastinya ladang mencari uang yang menggiurkan.

Meski belum ada angka pasti, tapi diperkirakan jumlah pegiat konten Youtube di Indonesia mencapai ribuan.

Menjamurnya para pembuat konten video ini juga disadari oleh Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) Indonesia, sayangnya instansi yang mewadahi industri kreatif nasional ini belum mendata jumlah pelaku bisnis yang aktif di sektor ini.

“Saya masih sulit menjawab untuk basis statistik dan ekonominya,” ujar Wakil Kepala Bekraf Ricky Pesik.

Ricky mengakui meski pengguna maupun pembuat konten di Youtube semakin banyak, namun dari dari sisi isi konten masih dinilai kurang. Ke depannya, Ia mengingankan agar monetisasi konten dari para vlogger Indonesia juga bisa dilaporkan dan dikembangkan oleh pemerintah. “Membuat supaya lebih sistematis, karena bagaimanapun ini ekosistemnya mulai beralih ke sini.”

Tak hanya mendulang uang dari banyaknya penonton, para Vlogger juga mengisi pundi-pundi rupiahnya dengan mempromosikan produk tertentu. Berapa bayarannya?

“Yang sudah pernah saya proposed itu tarifnya berada di angka Rp 100 juta untuk sekali produksi di Youtube. Termahal itu Raditya Dika,” ujar Oritama Kayadi dari CPXi Indonesia, agensi media digital.

Sementara untuk tarif termurah berkisar Rp 20 juta. Produk yang paling banyak dipromosikan oleh pegiat konten Youtube lokal, menurut Oritama, adalah produk makanan dan minuman. “Itu karena kalau di dalam pasar perputaran bisnis ini paling cepat dan banyak, dan tentu saja makanan telah menjadi kebutuhan setiap orang.”

Raditya Dika menjelaskan kalau menjadi seorang YouTuber tak melulu membicarakan soal uang. Seorang content creator seperti YouTuber itu adalah penghasil karya yang bisa dinikmati semua orang. Ketika konten yang dibuat disukai banyak orang maka uang akan mengikuti dengan sendirinya.

“Gua sih nggak pernah mikir soal view, duit, gua sih bikin apa yang kita suka saja, duit datang dengan sendirinya nanti. Tapi kalau ditanya apakah menjadi content creator itu suatu profesi menjanjikan, menurut gua menjanjikan karena bisa kerja sesuka gua, nggak ada aturan harus berangkat jam sekian, dan lewat video yang gua buat kayak Malam Minggu Miko, gua dikontrak untuk film. Gua bekerja dengan apa yang gua suka,” jelas Raditya Dika.