Kisah Seorang Komponis Yang Tuli ( Ludwig Van Beethoven )

Ludwig Van Beethoven adalah benar-benar seorang pencipta musik orisinil, banyak perubahan-perubahan yang dilakukan dan diperkenalkannya mempunyai pengaruh yang abadi pada dunia musik. Dengan mendemonstrasikan kemungkinan yang hampir tak terbatas yang bisa dihasilkan oleh piano, dia membantu menjadikan piano itu instrumen musik yang paling terkemuka. Beethoven membuka babak transisi dari musik klasik ke musik bergaya romantik dan karyanya merupakan sumber ilham untuk gaya romantik. Karya-karyanya hanya bisa dimainkan oleh mereka yang mempunyai pengetahuan musik yang tinggi. Dia di nobatkan sebagai salah satu dalam seratus tokoh paling berpengaruh dalam sejarah dunia di urutan yang ke-42 yang disusun oleh Michael H. Hart.

Tapi tahukah teman bahwa sebagian besar karya-karya hebat milik Beethoven justru tercipta ketika ia menjadi tuli. Tuli buat seorang pencipta musik betul-betul merupakan suatu malapetaka. Hingga suatu ketika timbul keinginan beethoven untuk bunuh diri. Ketika Beethoven berumur 20-an, tanda-tanda ketuliannya mulai tampak. Gejala ini amat merisaukan si komponis muda. Tahun-tahun antara 1802-1815 sering dianggap masa pertengahan karier Beethoven. Pada masa istirahat itu, akibat ketuliannya yang menghebat, dia mulai mundur dari pergaulan masyarakat. Ketunarunguannya ini membuat orang punya kesan tidak yakin bahwa Beethoven memang betul-betul anti manusia, anti masyarakat, benci bergaul.

Pada usia 40-an Beethoven menjadi seratus persen tuli. Akibatnya, dia tak pernah lagi tampil di muka umum dan semakin menjauhi masyarakat. Hasil karyanya semakin sedikit dan semakin sulit di fahami. Sejak itu dia mencipta terutama buat dirinya sendiri dan beberapa pendengar yang punya ideal masa depan, meski terkadang ia menempelkan telinganya ke piano untuk bisa menghasilkan sebuah komposisi musik. Dia pernah┬ábilang kepada seorang kritikus musik, “Ciptaanku ini bukanlah untukmu tetapi untuk masa sesudahmu.”

Meski pada masa-masa ketuliannya Beethoven tidak menjaga mutu komposisi musiknya, Tetapi kenyataannya sungguh mengherankan dari yang dibayangkan. Dalam masa tahun-tahun ketulian totalnya itu,
Beethoven justru melakukan ciptaan tidak sekedar setara dengan karya-karya yang dihasilkan sebelumnya, melainkan umumnya karya dalam ketulian itu dianggap merupakan hasil karya terbesarnya.

Karya-karya Beethoven itu antara lain 9 simfoni, 32 sonata piano, 5 piano concerto, 10 sonata untuk piano dan biola, serangkaian kuartet gesek yang menakjubkan, musik vokal, musik teater, dan banyak lagi. Tetapi, yang lebih penting dari jumlah ciptaannya adalah segi kualitasnya. Karyanya merupakan kombinasi luar biasa dari kedalaman perasaan dengan kesempurnaan tata rencana. Beethoven memperagakan bahwa musik instrumental tak bisa lagi dianggap cuma punya nilai seni nomor dua. Ini dibuktikan dari komposisi yang disusunnya yang telah mengangkat musik instrumental itu ke tingkat nilai seni yang amat tinggi.

Beethoven kehilangan kekuatan terbesarnya sebagai seorang komponis yaitu pendengaran. Namun beethoven telah membuktikan ketuliannya itu tidak bisa menghentikan kecintaannya dalam bermusik. Meski sempat putus asa tapi ia bisa bangkit lagi, beethoven tidak menyerah pada keadaan.